Warganet tengah ramai membahas unggahan tentang cara menghadapi orang dengan gangguan kepribadian narsistik atau NPD (Narcissistic Personality Disorder).
Dalam unggahan akun X @tanya***, seseorang curhat merasa kewalahan berhadapan dengan rekan satu kos sekaligus rekan kerja yang menunjukkan perilaku khas NPD.
Awalnya, mereka akrab, sering bekerja bersama, namun lama-kelamaan hubungan itu terasa melelahkan secara emosional.
Meski sempat berpisah, warganet tersebut kembali dipertemukan dan menjadi satu rekan kerja.
"Sekarang malah ketemu lagi kata mama ku hadepin aja karena cuma dikerjaan, kan ngga ngekos, tapi jujur bayangin aja udah nguras energi apalagi aku orangnya ngga enakan,” bunyi unggahan itu.
Curhatan itu pun memicu banyak respons dan diskusi di media sosial mengenai bagaimana cara terbaik menghadapi orang dengan kepribadian narsistik.
Cara menghadapi orang NPD menurut psikolog
Berhadapan dengan orang yang memiliki kepribadian narsistik atau Narcissistic Personality Disorder (NPD) bukanlah hal mudah, terutama di lingkungan kerja.
Mereka kerap menuntut perhatian berlebihan, menyepelekan orang lain, hingga melampaui batas profesional.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal mengingatkan pentingnya bersikap tegas dan menjaga kesehatan mental dalam situasi seperti ini.
“Orang dengan NPD sering kali berusaha memanfaatkan atau mengeksploitasi orang lain demi kepentingannya,” kata Danti saat dihubungi Kompas.com, Minggu (5/10/2025).
“Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan batas yang jelas dan tegas,” tambahnya.
Menurutnya, komunikasi yang asertif sangat penting. Karena itu, perlu belajar mengatakan "tidak" secara sopan namun tegas, terutama ketika permintaan mereka tidak masuk akal atau mengganggu waktu pribadi.
Ia juga menyarankan agar pekerja menjaga batas waktu dan tanggung jawab dengan jelas, misalnya tidak menanggapi pesan kerja di luar jam kantor kecuali benar-benar mendesak.
1. Tetap tenang dan jaga jarak emosional
Danti menekankan pentingnya menjaga jarak emosional agar tidak mudah terpancing oleh perilaku manipulatif orang narsistik.
“Jangan biarkan perilaku mereka memengaruhi harga diri atau emosi Anda. Mereka bisa merasa puas ketika melihat Anda marah atau tersulut emosi,” jelasnya.
Salah satu teknik yang bisa diterapkan adalah metode “gray rock” atau “batu abu-abu”.
“Responslah dengan datar, membosankan, dan tidak emosional. Dengan begitu, mereka akan kehilangan minat karena tidak mendapatkan drama atau reaksi yang mereka inginkan,” tutur Danti.
Ia juga menegaskan agar setiap interaksi tetap berfokus pada fakta dan tujuan kerja.
Hindari perdebatan yang melibatkan opini pribadi atau gosip. Menurutnya, komentar negatif dari mereka lebih menggambarkan diri mereka sendiri, bukan Anda.
2. Catat setiap interaksi, lindungi diri
Selain menjaga sikap, Danti menyarankan langkah perlindungan konkret melalui dokumentasi.
“Catat setiap interaksi penting, tanggal, waktu, isi pembicaraan, bahkan siapa yang hadir. Catatan ini akan sangat berguna jika suatu saat Anda perlu melaporkannya ke atasan atau HRD,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, tetaplah fokus pada pekerjaan dan buat catatan pencapaian secara rutin.
Dengan begitu, Anda punya bukti objektif tentang kontribusi di kantor, meski orang narsistik itu mencoba mengklaim hasil kerja Anda.
Hal lain yang perlu dihindari adalah membagikan informasi pribadi.
“Jangan pernah membuka kerentanan Anda di depan mereka, karena bisa saja itu digunakan untuk memanipulasi Anda di masa depan,” ucapnya mengingatkan.
3. Jangan berharap mereka berubah
Danti menilai, penting untuk menerima kenyataan bahwa orang dengan NPD hampir mustahil diubah.
“Jangan buang energi berharap mereka akan sadar atau berubah. Fokus saja pada hal yang bisa Anda kendalikan, yaitu cara Anda bereaksi,” ujarnya.
Menurutnya, mengatur ekspektasi bisa mencegah kekecewaan dan kelelahan emosional.
Untuk itu, perlu memiliki rasa menerima bahwa mereka punya keterbatasan dalam berempati.
4. Cari dukungan jika sudah mengganggu produktivitas
Jika perilaku orang narsistik sudah mulai mengganggu pekerjaan, Danti menyarankan untuk tidak menghadapi sendirian.
Selain itu, perlu juga melibatkan atasan atau HRD bila situasi semakin sulit, dengan data dan bukti yang objektif, bukan emosi.
Jika dampaknya sudah memengaruhi kesehatan mental, ia menegaskan pentingnya mencari bantuan profesional.
“Jangan ragu menemui psikolog atau konselor bila interaksi itu membuat Anda stres berat atau kehilangan motivasi kerja. Ingat, menjaga kesejahteraan diri adalah prioritas utama,” tandas Danti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar